Dalam perjalanan mendekat kepada Allah, seorang muslim tidak hanya menghadapi hawa nafsu dan beratnya ibadah, tetapi juga tipu daya setan yang terus berusaha menghalangi manusia dari jalan kebaikan. Setan tidak datang secara terang-terangan, namun melalui bisikan, ketakutan, keraguan, dan berbagai tipu daya halus yang membuat seseorang berhenti di tengah jalan menuju Allah.
Tujuan Setan: Menghalangi Manusia dari Ibadah
Setan memiliki satu tujuan utama: menjauhkan manusia dari ibadah dan ketaatan kepada Allah. Dalam penjelasan para ulama yang dinukil dari tafsir Ibnu Abbas, disebutkan bahwa setan datang dari berbagai arah: depan, belakang, kanan, dan kiri. Setiap arah memiliki bentuk tipu daya yang berbeda-beda.
1. Dari Depan: Menakut-nakuti Masa Depan
Setan menakut-nakuti manusia dengan urusan akhirat dan masa depan. Ia menanamkan rasa takut dan ragu hingga seseorang enggan beramal.
Misalnya:
- Takut miskin jika banyak bersedekah.
- Takut kehilangan pekerjaan jika terlalu taat.
- Takut kehilangan keluarga, jabatan, atau kenyamanan dunia ketika mulai hijrah.
Akibatnya, seseorang menunda kebaikan dan enggan melangkah menuju Allah.
Contoh lain dalam kehidupan sehari-hari:
- Seseorang takut menutup tokonya untuk salat berjamaah karena khawatir kehilangan pembeli.
- Ada yang takut belajar agama karena sadar ilmu akan menuntutnya meninggalkan kebiasaan buruk.
- Sebagian orang takut mengakui kesalahan karena khawatir kehilangan pengikut atau kedudukan.
Padahal, seluruh manfaat dan mudarat berada di tangan Allah. Tidak ada yang mampu memberi manfaat ataupun bahaya kecuali dengan izin-Nya.
2. Dari Belakang: Membuat Terjebak Masa Lalu
Setan juga menarik manusia untuk terus mengingat masa lalu:
- dosa-dosa lama,
- kegagalan,
- atau kenikmatan dunia yang dahulu pernah dimiliki.
Bisikan seperti:
“Kamu dulu lebih bahagia sebelum hijrah.”
“Kamu tidak akan bisa berubah.”
“Untuk apa berusaha lagi?”
membuat seseorang putus asa dan kehilangan semangat untuk bangkit.
Padahal Islam mengajarkan bahwa selama seseorang masih berada di jalan kebaikan dan terus berusaha menuju Allah, maka ia berada di jalan keselamatan.
3. Dari Kanan: Berlebihan dalam Kebaikan
Tipu daya setan tidak selalu berupa maksiat. Kadang seseorang diarahkan kepada sesuatu yang tampak baik, namun dilakukan secara berlebihan hingga melalaikan kewajiban yang lebih utama.
Contohnya:
- sibuk dengan ibadah sunnah namun melalaikan nafkah keluarga,
- terlalu mendalami hal-hal tertentu hingga melupakan kewajiban dasar,
- aktif di masjid tetapi tidak menjalankan amanah utama dalam hidupnya.
Agama Islam dibangun di atas keseimbangan. Yang paling utama tetaplah menjalankan kewajiban yang Allah tetapkan terlebih dahulu.
4. Dari Kiri: Tenggelam dalam Syahwat dan Maksiat
Dari arah kiri, setan menjerumuskan manusia ke dalam syahwat dan keburukan:
- maksiat,
- kemalasan,
- dosa yang terus diulang,
- hingga akhirnya sulit keluar dari lingkaran tersebut.
Sebagian manusia disesatkan dengan syubhat (pemahaman menyimpang), sebagian lagi dengan syahwat (kenikmatan maksiat). Keduanya sama-sama menjauhkan manusia dari jalan lurus.
Hakikat Ujian dan Bisikan Setan
Sering kali seseorang merasa perjalanan menuju Allah begitu berat. Namun sebenarnya, yang membuat terasa sangat berat bukanlah ujiannya, melainkan bisikan setan di dalam hati.
Allah telah menegaskan bahwa:
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.
Ketika seseorang diuji, setan datang memperbesar rasa takut, prasangka buruk, dan kesedihan.
- menghadapi masalah kecil,
Misalnya:
- kehilangan sandal,
- melihat orang bermuka masam,
namun setan membisikkan:
“Orang-orang tidak suka kepadamu.”
“Kamu tidak pantas berada di jalan ini.”
“Semua orang menjauhimu.”
Akhirnya seseorang merasa berat dan kehilangan semangat dalam kebaikan.
Hikmah di Balik Kesulitan
Kesulitan dalam perjalanan menuju Allah memiliki hikmah besar:
- agar manusia tidak bergantung pada dirinya,
- tidak bergantung pada makhluk,
- tetapi benar-benar kembali dan berharap hanya kepada Allah.
Ketika seseorang sudah merasa mentok dan tidak mampu lagi mengandalkan dirinya, saat itulah ia akan berkata:
“Ya Allah, tolong aku.”
Dan itulah salah satu keadaan paling mulia dalam ibadah: hati yang benar-benar bergantung kepada Allah.
Penutup
Perjalanan menuju Allah memang tidak mudah. Akan selalu ada bisikan, rasa takut, keraguan, dan godaan yang menghalangi langkah seorang hamba. Namun seorang muslim harus memahami bahwa semua itu adalah bagian dari tipu daya setan.
Selama seseorang terus berusaha berada di jalan Allah, terus memperbaiki diri, dan tidak berhenti melangkah, maka ia masih berada di jalan keselamatan.
Karena yang diinginkan setan bukan sekadar manusia berbuat dosa, tetapi agar manusia berhenti berjalan menuju Allah.