Pendahuluan
Banyak orang memandang Islam hanya sebagai kumpulan aturan: ini boleh, itu tidak boleh, ini wajib, itu haram. Padahal sesungguhnya Islam adalah sebuah jalan keselamatan yang Allah tunjukkan kepada manusia agar mereka sampai kepada ridha dan surga-Nya.
Karena itu Rasulullah ﷺ tidak hanya menyampaikan hukum-hukum, tetapi juga menggambarkan bagaimana seorang muslim berjalan di atas jalan tersebut. Dengan memahami gambaran ini, seorang muslim akan lebih mudah istiqamah, tidak bingung, dan tidak mudah terpecah fokus dalam menjalani agama.
Allah tidak membiarkan manusia berjalan tanpa petunjuk. Allah menunjukkan jalan yang lurus, menjelaskan batas-batasnya, memperingatkan jalan-jalan yang menyimpang, bahkan menjelaskan tipu daya setan yang selalu berusaha menggelincirkan manusia dari jalan tersebut.
Islam Adalah Jalan yang Lurus
Rasulullah ﷺ menggambarkan Islam seperti sebuah jalan lurus yang di kanan kirinya terdapat pintu-pintu penyimpangan. Jalan lurus ini adalah jalan yang Allah ridai, sedangkan pintu-pintu di sampingnya adalah jalan maksiat dan kesesatan.
Setiap manusia sebenarnya sedang berjalan menuju Allah. Persoalannya bukan apakah ia berjalan atau tidak, tetapi:
Di jalan mana ia berjalan?
Ada orang yang berjalan di jalan hidayah.
Ada pula yang berjalan di jalan hawa nafsu.
Karena itu syariat hadir untuk membantu manusia tetap berada di jalan yang benar.
Ketika seseorang memahami gambaran besar Islam, ia akan lebih mudah menjalani syariat. Sebaliknya, orang yang hanya melihat aturan secara terpisah-pisah sering kali merasa berat dan kehilangan arah.
Maksiat Tidak Dimulai dari Dosa Besar
Salah satu pelajaran penting dalam materi ini adalah bahwa maksiat biasanya tidak dimulai dari dosa besar, tetapi dari “membuka tirai”.
Awalnya seseorang hanya melihat.
Awalnya hanya mencoba.
Awalnya hanya penasaran.
Namun ketika pintu itu dibuka, setan mulai menariknya sedikit demi sedikit hingga akhirnya ia terjatuh lebih dalam.
Inilah sebabnya banyak orang awalnya merasa:
- “Cuma lihat-lihat.”
- “Cuma coba sekali.”
- “Cuma iseng.”
Tetapi akhirnya sulit berhenti.
Orang yang belum pernah terjatuh dalam suatu maksiat biasanya tidak tertarik terhadapnya. Namun ketika seseorang sudah mencicipinya, akan muncul dorongan untuk mengulanginya kembali.
Karena itu syariat datang sebelum manusia jatuh terlalu jauh.
Syariat Menutup Jalan Menuju Dosa
Kasih sayang Allah tampak dari bagaimana syariat tidak hanya mengharamkan dosa besar, tetapi juga menutup jalan menuju dosa tersebut.
Allah tidak hanya melarang zina, tetapi juga melarang mendekatinya.
Allah memerintahkan:
- menjaga pandangan,
- menjaga aurat,
- menjaga pergaulan,
- menjaga hati.
Begitu pula ketika Allah mengharamkan khamr, Allah juga mengharamkan:
- menjualnya,
- membelinya,
- membantu penyebarannya.
Karena Islam tidak ingin manusia mendekati kehancuran sedikit pun.
Banyak manusia baru menyadari bahayanya setelah terjatuh:
- judi online,
- riba,
- rokok,
- pornografi,
- hubungan haram,
- dan berbagai maksiat lainnya.
Awalnya terlihat kecil, namun akhirnya menghancurkan hati, keluarga, bahkan kehidupan seseorang.
Mata dan Lisan: Pintu Besar Masuknya Maksiat
Ibnul Qayyim رحمه الله menjelaskan bahwa kebanyakan maksiat lahir dari dua hal:
- Banyak melihat
- Banyak berbicara
Mata dan lisan adalah anggota tubuh yang paling mudah digunakan dan paling sulit dikendalikan.
Seseorang bisa:
- melihat berjam-jam tanpa merasa lelah,
- berbicara panjang tanpa merasa berat.
Karena itu setan sangat mudah masuk melalui dua pintu ini.
Hari ini kerusakan besar banyak bermula dari:
- tontonan yang tidak dijaga,
- media sosial yang tidak terkontrol,
- komentar yang tidak bermanfaat,
- ghibah,
- candaan yang melampaui batas,
- dan konten yang merusak hati.
Maka menjaga mata dan lisan bukan perkara kecil. Ia adalah benteng utama keselamatan hati.
Islam Mengajarkan Keseimbangan
Dalam hadis Salman Al-Farisi dan Abu Darda, Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa hidup seorang muslim harus seimbang.
Ada hak:
- Allah,
- diri sendiri,
- keluarga,
- dan manusia lain.
Semuanya harus ditunaikan dengan adil.
Ibadah tidak boleh membuat seseorang melalaikan keluarganya.
Namun dunia juga tidak boleh membuat seseorang lalai dari Allah.
Sebagian orang terlalu mengejar dunia hingga melupakan akhirat.
Sebagian lain terlalu sibuk dengan ibadah sunnah tetapi melalaikan tanggung jawab keluarga.
Islam tidak mengajarkan sikap berlebihan seperti itu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Berikanlah kepada setiap yang memiliki hak, haknya.”
Namun ketika hak-hak itu bertabrakan, maka:
- Hak Allah harus didahulukan,
- kemudian hak manusia,
- lalu hak diri sendiri.
Inilah keseimbangan yang indah dalam Islam.
Setan Tidak Pernah Berhenti Mengganggu
Setan bersumpah di hadapan Allah bahwa ia akan menghalangi manusia dari jalan yang lurus.
Ia tidak tinggal diam ketika seseorang ingin menjadi baik.
Ketika seseorang mulai hijrah:
- setan menakut-nakutinya,
- membuatnya ragu,
- membuatnya merasa berat meninggalkan kebiasaan lama.
Ketika seseorang mulai belajar agama:
- setan membuatnya malas,
- sibuk,
- atau merasa cukup.
Ketika seseorang mulai berdakwah dan memperjuangkan agama:
- setan menakutinya dengan kehilangan dunia,
- kehilangan kenyamanan,
- bahkan kehilangan kedudukan.
Karena itu perjalanan menuju Allah memang membutuhkan kesabaran dan perjuangan.
Tahapan Perjalanan Menuju Allah
Materi ini juga menjelaskan bahwa perjalanan seorang muslim memiliki tahapan.
1. Islam
Seseorang menerima kebenaran dan masuk ke jalan Allah.
2. Hijrah
Ia mulai meninggalkan:
- lingkungan buruk,
- kebiasaan buruk,
- dosa,
- dan hal-hal yang menjauhkan dirinya dari Allah.
3. Jihad
Ia mulai memperjuangkan agama Allah:
- dengan ilmu,
- dakwah,
- tulisan,
- pengorbanan,
- dan amal shalih lainnya.
Setiap tahap memiliki ujian.
Namun selama seseorang tetap berjalan di atas jalan yang benar, maka ia berada dalam keselamatan.
Hakikat Keberhasilan
Keberhasilan bukan berarti langsung menjadi manusia paling alim atau paling sempurna.
Keberhasilan sejati adalah:
tetap istiqamah di jalan Allah sampai akhir hayat.
Boleh jadi seseorang belum mencapai tingkatan tinggi.
Boleh jadi ilmunya belum banyak.
Boleh jadi amalnya masih sedikit.
Tetapi selama ia:
- jujur berjalan menuju Allah,
- terus memperbaiki diri,
- dan tidak meninggalkan jalan kebenaran,
maka ia berada di atas jalan keselamatan.
Yang paling berbahaya bukan lambat berjalan,
tetapi keluar dari jalan.
Penutup
Islam adalah rahmat dan petunjuk.
Syariat bukan untuk menyulitkan manusia, tetapi untuk menjaga manusia dari kehancuran dunia dan akhirat.
Karena itu seorang muslim harus:
- menjaga pandangan,
- menjaga lisan,
- menjauhi sebab-sebab maksiat,
- menunaikan hak dengan seimbang,
- dan terus istiqamah di atas jalan Allah.
Setan akan terus menggoda.
Dunia akan terus memalingkan.
Nafsu akan terus mengajak.
Namun siapa yang tetap bertahan di jalan Allah hingga akhir hidupnya, maka ia telah meraih kemenangan terbesar.
Semoga Allah menjaga kita tetap berada di jalan yang lurus hingga akhir hayat. Aamiin.